hubungan antara usus dan otak

mengapa makanan sehat bikin hati tenang

hubungan antara usus dan otak
I

Pernahkah kita tiba-tiba merasa cemas tanpa alasan yang jelas, lalu refleks mencari cokelat, camilan gurih, atau es krim manis? Atau sebaliknya, saat kita sedang patah hati atau hendak melakukan presentasi besar, perut rasanya seperti diaduk-aduk tak karuan? Seringkali kita menganggap ini hanya soal perasaan belaka. Kita menyebutnya sebagai lapar emosional atau sekadar reaksi gugup biasa. Tapi, bagaimana jika saya katakan bahwa "perasaan" itu sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari kepala kita? Bagaimana kalau kebahagiaan, kecemasan, dan rasa tenang yang kita rasakan setiap hari ternyata dikendalikan oleh sesuatu yang diam-diam hidup di dalam perut kita? Mari kita bedah misteri ini bersama-sama.

II

Sejak ribuan tahun lalu, nenek moyang kita sebenarnya sudah punya firasat tentang fenomena ini. Orang Yunani Kuno percaya bahwa pusat emosi manusia bukan berada di otak, melainkan di perut. Dalam bahasa Inggris, kita mengenal istilah gut feeling atau insting usus untuk menggambarkan intuisi yang sangat kuat. Di Indonesia sendiri, saat kita merasa sedih atau kecewa, kita sering menggunakan istilah "sakit hati", padahal sensasi tidak nyaman itu justru lebih sering terasa melilit di perut atau ulu hati kita. Dulu, sains modern menertawakan gagasan kuno ini. Otak adalah satu-satunya raja, begitu pikir para ilmuwan selama berabad-abad. Perut dianggap sekadar mesin pemroses makanan, pembuang limbah, dan sama sekali tidak punya kaitan dengan kecerdasan atau emosi. Namun, seiring berkembangnya teknologi mikroskopis dan ilmu neurosains, pandangan arogan ini perlahan runtuh. Kita mulai menyadari bahwa ada sebuah "kota metropolitan" super sibuk di dalam tubuh kita, dan kota itu ternyata sedang diam-diam meretas sistem emosi kita setiap hari.

III

Bayangkan ini. Di dalam saluran pencernaan kita, ada sekitar 39 triliun mikroorganisme yang hidup berdampingan. Kumpulan bakteri, virus, dan jamur ini disebut sebagai microbiome. Jumlah mereka bahkan lebih banyak dari total sel manusia di tubuh kita sendiri. Secara teknis, kita ini lebih pantas disebut sebagai sebuah ekosistem yang berjalan daripada individu tunggal. Nah, pertanyaannya, untuk apa mereka semua ada di sana? Apakah cuma untuk numpang makan sisa pencernaan? Ternyata tidak. Usus kita memiliki jaringan sarafnya sendiri yang sangat luar biasa kompleks. Para ahli menyebutnya sebagai Enteric Nervous System (ENS). Jaringan ini sangat besar dan mandiri, sampai-sampai ia sering dijuluki sebagai "otak kedua". Otak kedua ini bisa beroperasi murni tanpa perlu menunggu perintah dari otak di kepala kita. Pertanyaan besarnya: jika usus punya otak sendiri, dan dihuni oleh triliunan makhluk asing penguasa nutrisi, bagaimana cara mereka "berbicara" dengan otak utama kita untuk menentukan apakah hari ini kita merasa bahagia atau justru ingin marah-marah?

IV

Jawabannya ada pada sebuah "kabel data" raksasa di dalam tubuh kita yang bernama saraf vagus. Saraf inilah jalan tol informasi yang menghubungkan sistem pencernaan langsung ke otak. Dulu kita pikir komunikasi ini berjalan satu arah, dari otak memerintah perut. Ternyata, faktanya sungguh mengejutkan. Sekitar 80 hingga 90 persen sinyal lalu lintas justru mengalir dari perut ke otak. Usus kitalah yang lebih banyak melapor dan memberi perintah kepada otak, bukan sebaliknya. Di sinilah hard science mulai terasa seperti keajaiban. Teman-teman pasti pernah mendengar tentang serotonin, zat kimia pembawa pesan di otak yang membuat kita merasa bahagia, rileks, dan percaya diri. Coba tebak di mana zat ajaib ini paling banyak diproduksi? Ya, 90 persen serotonin di tubuh kita diproduksi di dalam usus, dan proses ini sangat bergantung pada kerja keras microbiome alias bakteri baik tadi. Ketika kita makan makanan utuh yang sehat seperti sayur, buah, dan makanan fermentasi, kita sedang memberi makan bakteri baik. Mereka membalas budi dengan memproduksi zat kimia penenang dan mengirim pesan lewat saraf vagus ke otak: "Semua nutrisi aman, tidak ada ancaman, mari bersantai." Sebaliknya, saat kita terus-terusan mengonsumsi gula berlebih dan makanan ultra-proses, kita membiakkan bakteri jahat yang merusak dinding usus dan memicu peradangan. Peradangan ini mengirim sinyal alarm darurat ke otak, yang kemudian diterjemahkan oleh tubuh sebagai rasa cemas, lelah yang tak berkesudahan, dan mood yang hancur lebur.

V

Menyadari hal ini rasanya sungguh membebaskan, bukan? Selama ini kita mungkin sering menyalahkan diri sendiri karena mudah merasa cemas, overthinking, atau kehilangan motivasi. Padahal, bisa jadi itu sama sekali bukan kelemahan mental kita. Bisa jadi, itu hanyalah teriakan minta tolong dari triliunan teman kecil di perut kita yang kelaparan akan nutrisi yang benar. Saya tahu, memutus siklus makan sembarangan saat kita sedang stres memang sangat sulit, karena makanan manis memberikan kelegaan instan yang menipu. Namun, dengan memahami sains di balik gut-brain connection ini, kita bisa mulai berlatih untuk sedikit lebih welas asih pada diri sendiri. Lain kali, saat kita melihat menu makan siang, ingatlah bahwa kita tidak hanya sedang menenangkan perut yang keroncongan. Kita sedang memberi makan kebahagiaan kita, merawat ketenangan pikiran kita, dan menstabilkan emosi kita. Memilih makanan bergizi bukan lagi sekadar soal diet mengejar bentuk tubuh ideal, melainkan sebuah bentuk strategi kesehatan mental dan rasa cinta paling nyata untuk menjaga agar hati kita tetap tenang.